News  

Sleman Galakan Pertanian Organik, Hasilkan Padi Bernilai Jual Tinggi dan Menyehatkan

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman Suparmono (Kiri nomor 4) bersama staf, petani dan Forkompimcam menunjukkan pada organik hasil panenan milik Kelompok Tani Mekar, di Dusun Ngalian, Widodomartani, Ngemplak, Rabu (23/11/2022). Foto: Istimewa

bernasnews — Kesuburan lahan pertanian di Kabupaten Sleman semakin memprihatinkan, yang sebagai akibat kegiatan bercocok tanaman mengandalkan pupuk dan pestisida kimia. Terbitnya Permentan no 10 tahun 2022 yang membatasi subsidi pupuk, menjadi momen yang tepat untuk kembali membenahi tanah atau lahan dengan memperbanyak penggunaan pupuk organik baik padat maupun cair.

Sementara lahan pertanian wilayah Sleman juga semakin terbatas dan kalah luasan dibanding kabupaten-kabupaten lain. Sehingga selain dengan mengoptimalkan produksi padi guna memenuhi kebutuhan masyarakatnya, Sleman pun harus mempunyai kreatifitas dalam produksi pertanian yang mempunyai nilai tinggi, contoh seperti pertanian padi secara organik.

Pertanian organik merupakan sebuah sistem produksi pertanian yang mengandalkan bahan-bahan alami serta menghindari atau membatasi penggunaan bahan kimia sintetis baik pupuk kimia (pabrikan), pestisida, herbisida, maupun zat pengatur tumbuh berbahan kimia.

Budidaya pertanian padi secara organik merupakan salah satu solusi yang dapat diterapkan untuk mencapai pertanian yang berkelanjutan serta ramah lingkungan. Budidaya padi organik di Kabupaten Sleman tersebar antara lain di Kapanewon Cangkringan, Prambanan, Ngaglik dan Ngemplak, dengan total luasan sekitar 20 Hektar.

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman Suparmono (Kanan nomor 2) saat menunjukkan pada organik hasil panen bersama. (Foto: Istimewa)

Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman Suparmono menjelaskan, bahwa yang menjadi kendala dalam pertanian organik adalah rendahnya produksi pada tahap peralihan konvensional ke organik dan tingginya biaya sertifikasi. Menurut dia, penerapan SOP budidaya padi organik akan sangat membantu petani meraih produksi yang tinggi.

“Memang pada tahap awal penerapan budidaya secara organik, produktivitas padi per musim tanam yang dihasilkan lebih rendah dibanding budidaya secara konvensional akan tetapi pada tahap selanjutnya produktivitas padi organik cenderung naik sementara yang konvensional akan konstan,” terang Suparmono, saat melakukan panen raya padi organik varietas ‘Sinta Nur’ milik Kelompok Tani Mekar, di Dusun Ngalian, Widodomartani, Ngemplak, Rabu (23/11/2022).

Dikatakan, dari panen ini, diperoleh hasil ubinan rata-rata 5,5 kilogram per ubin atau 8,8 ton perhektar. Dari produksi luasan sawah 2,5 Hektar sudah langsung dibeli oleh Koperasi Petani Milenial Yogyakarta (Kompakyo).

“Yang membagiakan lagi karena padi ini sudah mendapat sertifikasi oleh Lembaga Sertifikasi Organik Seloliman (LeSOS). Dengan adanya sertifikasi ini berarti telah memberikan kepercayaan kepada konsumen, bahwa produk yang dihasilkan memang benar-benar organik,” ujar Suparmono.

Lanjut dia menambahkan, biaya sertifikasi organik yang cukup mahal bagi petani pada tahap awal dibantu oleh Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan DIY. “Selain itu, dengan Unit Pengolah Pupuk Organik (UPPO) yang sudah dimiliki sejak tahun 2019, kini Kelompok Tani Mekar mampu menjadi penghasil pupuk organik dengan nama PON,” tandas Kepala Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Kabupaten Sleman. (nun/ ted)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *