Yogyakarta Kota Pertama Menerima Sosialisasi EYD V

Suasana sosialisasi Ejaan Bahasa Indoensia yang Disempurnakan Edisi Kelima dari Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra melalui Balai Balai Provinsi DIY di Hotel Horison Ultima Riss Malioboro, Jalan Gowongan Kidul 33 – 49 Yogyakarta, Rabu (23/11/2022). (Foto :Y.B. Margantoro/bernasnews)

bernasnews – Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi Kelima atau EYD V adalah pedoman penggunaan Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Hal ini telah ditetapkan oleh Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi E. Aminudin Aziz melalui keputusan nomor 0424/I/BS.00.01/2022 tentang Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan.

“Kita bersyukur, Yogyakarta menjadi kota pertama bagi Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta melaksanakan sosialisasi Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi Kelima,” kata Kepala Balai Bahasa DIY Dwi Pratiwi pada acara sosialisasi EYD V di Hotel Horison Ultima Riss Malioboro, Jalan Gowongan Kidul 33 – 49 Yogyakarta, Rabu (23/11/2022).

Menyampaikan materi Kebijakan Pemerintah Kota Yogyakarta terhadap Pembinaan Bahasa Indonesia Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kota Yogyakarta Tyasning Handayani Shanti yang mewakili Sekretaris Daerah. Sesi berikutnya, Kepala Pusat Pembinaan Bahasa dan Sastra Mohammad Abdul Khak memberikan materi Gambaran Umum EYD V dan Koordinator KKLP Pembinaan dan Bahasa Hukum Kity Karenisa menyampaikan materi Penerapan Penggunaan EYD V.

Acara ini diikuti perwakilan instansi pemerintah daerah, perguruan tinggi, sekolah, penerbit, TBM, MGMP, lembaga, mahasiswa Duta Bahasa, Balai Bahasa, dan media.   

Perkembangan Bahasa Indonesia pesat

Mohammad Abdul Khak mengatakan, perkembangan Bahasa Indonesia yang makin pesat menjadi latar belakang perubahan ejaan. Ejaan adalah seperangkat kaidah untuk menuliskan huruf, kata, tanda baca, dan unsur serapan.

“Menggunakan Bahasa Indonesia yang baik itu berarti penggunaan bahasa yang sesuai situasi. Kalau secara benar, penggunaan bahasa sesuai dengan kaidah. Sedangkan ejaan hanya mengatur bahasa tulis,” kata dia.

Menurut dia, terpajannya penggunaan bahasa pada konsep-konsep keilmuan dan kebudayaan dalam tatanan masyarakat yang baru. Hal itu perlu penanganan yang sistematis dalam bentuk kaidah kebahasaan yang lebih adaptif, responsif dan akomodatif. Dalam hal ini, pengguna bahasa dapat mengekspresikan pemikiran, ide dan perasaaannya dengan lebih tertib, baik dan terarah.

Merunut sejarah ejaan Bahasa Indonesia ada tujuh tonggak waktu. Tahun 1901 Ejaan van Ophuijsen, tahun 1947 Ejaan Soewandi, tahun 1972 Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD), tahun 1987 Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi II, tahun 2009 Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan Edisi III, tahun 2015 Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI) Edisi IV dan tahun 2022 Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan (EYD) Edisi V. 

Dalam perubahan ejaan kelima kali ini menyangkut perevisian kaidah, redaksi kaidah, penggantian contoh, penambahan kaidah, dan pemindahan kaidah. Tentang EYD V ini masyarakat dapat melihat melalui tampilan aplikasi pada ponsel. Sedangkan produk dan layanan salam satu superapliaksi dapat diakses melalui Halo Bahasa.Dalam acara dialog, para peserta banyak bertanya tentang penerapan penggunaan EYD V. (mar)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *