News  

Target Zero Sampah Anorganik, Pemkot Yogyakarta Bentuk Tim Monitoring

Suasana proses pemilahan sampah oleh sebuah komunitas bank sampah. (Foto: Dok. bernasnews)

bernasnews – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta telah mencanangkan target zero sampah anorganik untuk mengurangi volume sampah yang dibuang ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan, Kabupaten Bantul, DIY. Berkenaan tersebut, Pemkot Yogyakarta berencana melibatkan wilayah untuk monitoring pengelolaan sampah di masyarakat mulai tahun 2023.

Dalam acara Sarasehan Forum Bank Sampah Kota Yogyakarta di Kemantren Umbulharjo, Sekretaris Daerah Pemkot Yogyakarta Aman Yuriadijaya mengungkapkan, bahwa nanti Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama kewilayahan mulai tahun 2023 akan membentuk tim monitoring sampah.

Menurut dia, tim monitoring sampah itu akan meniru seperti pelaksanaan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro saat pandemi. Tim monitoring sampah melibatkan di antaranya wilayah berbasis kelurahan, bank sampah, babinsa dan babinkamtibmas.

“Tim monitoring itu mengampu pengawasan pengelolaan sampah dari hulu atau masyarakat basis kelurahan. Di hulu dijaga tim monitoring dan di tengah masyarakat oleh lurah dan anggota bank sampah. Sedangkan forum bank sampah membantu masyarakat berproses menuju zero sampah anorganik,” beber Aman, dikutip dari Portal Berita Pemerintah Kota Yogyakarta, Senin (21/11/2022).

Dikatakan, Pemkot Yogyakarta menargetkan pengurangan sampah anorganik sekitar 40 persen dari sekitar 260 ton perhari volume sampah dari Kota Yogyakarta yang dibuang ke TPA Piyungan. Sebab diperkirakan secara teknis TPA Piyungan akan penuh pada akhir 2023.

“Oleh sebab itu pengurangan volume sampah anorganik menjadi prioritas, sehingga masyarakat wajib memilah sampah. Desember lusa, kami akan mengeluarkan surat edaran walikota yang ‘memaksa’ seluruh warga masyarakat memilah sampah. Berasis keluarga, pasar, pedagang, rumah sakit, hotel dan restoran harus memilah sampah. Sudah jadi harga mati,” ujar Ketua Forum Bank Sampah Kota Yogyakarta.

Arman menjelaskan, masyarakat harus memilah sampah anorganik dan organik. Sampah anorganik dikelola lewat bank sampah. Untuk sampah organik yang tidak dikelola masyarakat misalnya dengan ember tumpuk, losida, biopori dan ecoenzim, boleh dibawa penggerobak ke tempat pembuangan sementara.

“Penggerobak dilarang bawa sampah yang belum dipilah atau yang masih ada sampah anorganiknya. Maka nanti di 13 depo sampah se- Kota Yogyakarta akan dijaga Satpol PP selama 24 jam,” tandas Sekda Kota Yogyakarta.

Sementara itu Kepala DLH Kota Yogyakarta Sugeng Darmanto menjelaskan, bahwa per 1 Januari 2023 Pemkot Yogyakarta akan mendorong menyelesaikan sampah anorganik dari sumber di masyarakat. Menurut dia, masyarakat wajib memilah sampah organik dan mengelola sampah anorganik.

“Para lurah diharapkan bisa mendukung pelaksanaan di lapangan terkait pelapak dan penggerobak sampah,” kata Sugeng.

Lanjut dia mengatakan, per 1 Januari 2023, kita sepakat gerakan pemilahan sampah anorganik bisa selesai di sumbernya. Mohon  lurah mendukung di lapangan untuk konsolidasi pelapak dan penggerobak sampah. “Kalau TPS dan depo sudah dijaga, kami minta mantri pamong praja (MPP) agar bisa memberikan penekanan kepada masyarakat supaya sampah anorganik selesai di sumbernya masing-masing,” pungkas Sugeng. (ted)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *