News  

Wayang Kulit dan Pentas Reog Sebagai Media Sosialisasi CBPR

Penyerahan wayang kulit oleh Kepala BI DIY Budiharto Setyawan kepada Dhalang Ki Geter Pramuji Widodo sebagai simbolisasi pembukaan pergelaran wayang kulit, dengan lakon 'Banjaran Karno'. (Foto: Kiriman Y. Sri Susilo)

bernasnews – Pergelaran Wayang Kulit bagi masyarakat Jawa khususnya telah menjadi bagian dari budaya, pergelaran wayang selain menjadi sebuah tontonan sebagai media hiburan juga sebagai tuntutan dimana dalam isi ceritanya tersirat berbagai pesan-pesan bijak kehidupan.

Pergelaran wayang dan tarian reog bagian dari tradisi seni dan budaya, selain sebagai tontonan  serta tuntunan juga dapat diselipi dengan berbagai pesan oleh penyelenggara atau yang hamengku gawe.

Seperti yang dilakukan oleh Kantor Perwakilan BI DIY bekerjasama dengan ISEI Cabang Yogyakarta menyelenggarakan kampanye atau sosialisasi Cinta, Bangga, Paham Rupiah (CBPR). Seperti diketahui, bahwa Bank Indonesia (BI) memiliki tujuan yaitu mencapai dan menjaga kestabilan nilai Rupiah.

Kampanye atau sosialisasi CBPR itu diselanggakan dua hari melalui pergelaran wayang kulit lakon ‘Banjaran Karno’, dhalang Ki Geter Pramuji Widodo, bintang tamu Apri dan Mimin, serta pentas reog Kridho Beksa Wirayudha, dengan lakon ‘Burisrawa Rante’ dan ‘Anilo Prahasto’, di Lapangan Bukit Cubung, Botokan, Jatirejo, Lendah, Kulon Progo, DIY, pada hari Jumat (23/09/2022) dan Sabtu (24/09/2022).

Perangkat desa, pengurus Desa Wisata Jatirejo beserta masyarakat menyambut baik aktivitas tersebut dalam wujud menjadi panitia pelaksana. Sementara pemangku kepentingan lain yang juga mendukung acara tersebut yaitu KAFEGAMA DIY, FEB UGM dan FBE UAJY.

Ki Geter Pramuji Widodo saat unjuk kebolehan memainkan wayang kulit dalam lakon ‘Banjaran Karno’, yang mengisahkan perjalanan hidup sosok Adipati Karno, sang senopati. (Foto: Kiriman Y. Sri Susilo)

Kepala Perwakilan BI DIY Budiharto Setyawan menjelaskan, bahwa Bank Indonesia mendukung event seperti wayang kulit serta pentas reog untuk mendukung seni dan budaya. Wayang kulit juga dapat digunakan sebagai sarana untuk sosialisasi rupiah (CBPR). 

Menurut Budiharto, cinta rupiah merupakan perwujudan dari kemampuan masyarakat untuk mengenal karakteristik dan desain rupiah, memperlakukan rupiah secara tepat, menjaga dirinya dari kejahatan uang palsu.

Kemudian, bangga rupiah merupakan perwujudan dari kemampuan masyarakat memahami rupiah sebagai alat pembayaran yang sah, simbol kedaulatan NKRI, dan alat pemersatu bangsa. “Akhirnya, paham rupiah merupakan perwujudan kemampuan masyarakat memahami peran rupiah dalam peredaran uang, stabilitas ekonomi, dan fungsinya sebagai alat penyimpan nilai kemampuan,” ujar Budiharto.

Sementara Ketua ISEI Cabang Yogyakarta Eko Suwardi menambahkan, bahwa pergelaran wayang kulit dan pentas reog diselenggarakan untuk pengembangan Desa Wisata Jatirejo. Menurut dia, ISEI Cabang Yogyakarta yang didukung oleh BI DIY dan Bank BPD DIY mempunyai program kerja untuk mendukung pengembangan desa wisata dan kampung wisata.

“Wujud nyata kontribusi ISEI Cabang Yogyakarta, khususnya dalam pengembangan kelembagaan dan pengembangan kapasitas termasuk sumber daya manusia,” lanjut Eko Suwardi.

Dalam kesempatan tersebut, Ketua Desa Wisata Jatirejo Tristi Sinta Wati mewakili warga setempat mengucapkan terima kasih kasih  kepada BI DIY, ISEI Cabang Yogyakarta dan seluruh pemangku kepentingan  yang telah mendukung acara pergelaran wayang kulit dan pentas reog.

Tristi Sinta Wati yang juga selaku Dirut BUMdes Jati Unggul berharap dukungan tetap berlanjut untuk Desa Wisata Jatirejo dan BUMDes Jati Unggul baik dalam sumbangan pemikiran, pelatihan, pendampingan dan dana pembangunan fisik.

Sementara itu, Sekretaris ISEI Cabang Yogyakarta Y. Sri Susilo menambahkan, pergelaran wayang kulit dengan lakon ‘Banjaran Karno’, dengan dalang Ki Geter Pramuji Widodo dan bintang tamu Apri dan Mimin ditonton sekitar 2.000 masyarakat Desa Jatirejo dan sekitarnya. Sedangkan pentas reog Kridho Beksa Wirayudha dengan lakon ‘Burisrawa Rante’ dan ‘Anilo Prahasto’ dihadiri sekitar 1.000 penonton.

“Kegiatan gelar wayang kulit dan pentas reog tersebut direncanakan akan diselenggarakan secara rutin,” pungkas pengurus KADIN DIY dan juga penggiat wisata itu. (ted)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *